Selasa, 28 Februari 2012

Sya’ir Cinta Gus Dur

Sebulan ini saya sedang menikmati  senandung syi’iran Gus Dur yang saya peroleh secara tidak sengaja melalui dunia maya. Sebuah video yang menyajikan lantunan syi’iran berbahasa Jawa yang dibacakan Gus Dur dalam sebuah acara pengajian. namun sayang karena gapteknya saya, saya tak bisa menguploadnya disini. silahkan di search saja sebagaimana judul diatas.
Syi’iran tersebut  mengupas seputar nilai-nilai ideal dalam sikap keberagamaan kita dan fenomena yang terjadi selama ini, kaitannya dengan Keimanan kepada Tuhan, Kitab Suci, Kecintaan kepada Rasululloh, Sikap dan prinsip hidup sebagai seorang pribadi dan bagaimana tata etika sosial, selain itu pula syi’iran Gus Dur mengupas  keyakinan pada Takdir Tuhan, hingga Akhir kehidupan kita selaku hamba. Mendengarkannya terus terang membuat saya ingin terus memutar ulang, menelaah kedalaman isinya, membuat saya semakin melihat betapa sayang dan pedulinya Gus Dur pada ummat, khususnya mereka orang-orang kecil. Bagaimana menciptakan tatanan kebaikan individual dan social dalam kacamata spiritual. Berikut terjemahan bebas dari syi’iran Gus Dur tersebut.
Sya’ir Cinta Gus Dur diawali dengan permintaan pengampunan Pada Allah SWT atas segala kesalahan dan dosa selaku manusia, dan meminta pertambahan Ilmu yang bermanfaat yang disertai semangat untuk menjalankan amal sholeh dengan ilmunya. Pada sisi ini, saya melihat bahwa setiap manusia tak ada yang sempurna, manusia adalah manusia, bukan malaikat juga bukan syetan. Karakter manusia selalu berada pada titik dimana ada salah dan benar yang kita lakukan. Merasa diri tak pernah berbuat salah, merasa diri paling benar adalah kesombongan yang nyata. Bahkan sikap sombong dan takabur itu merupakan bentuk kemusyrikan. karena yang berhak sombong dan takabur hanyalah Allah semata.
Gus Dur mengajak kita semua untuk mengaji, untuk terus belajar ilmu agama dan ilmu lainnya, tidak hanya syari’at atau hukum saja, yang hanya pinter bercerita, menulis dan membaca, yang nantinya hanya akan membuat hidup sengsara. Banyak yang hapal Qur’an dan hadist, senangnya mengkafirkan orang lain,  sementara kekafirannya sendiri tak terperhatirkan. Itu pertanda hati dan akalnya masih kotor. Orang seperti itu mudah tertipu nafsu angkara, dengan segala gemerlapnya dunia, iri dan dengki dengan apa yang dimiliki saudaranya, hatinya gelap dan nista.
Oleh karenanya, Gus Dur mengingatkan kita untuk jangan lupa mengaji, untuk belajar ilmu dengan segala tingkatannya, agar kita memiliki ketebalan iman, keluasan wawasan, yang akan menjadi sebaik-baiknya bekal, dan memuliakan saat kematian kita. Menurut Gus Dur, orang yang disebut baik itu adalah dia yang memiliki hati yang baik, karena ilmunya mumpuni dalam segala hal, termasuk hakikat dan makrifatnya.
Gus Dur mengajak kita semua untuk menancapkan Ajaran Al-Qur’an, sebagai wahyu qodim yang mulia, yang tanpa ditulis namun bisa dibaca. Al-Qur’an sebagai Mukzijat Rasul nan agung, yang harus senantiasa menempel dalam hati dan pikiran, merasuk kedalam seluruh badan yang menjadi pedoman, sebagai jalan bagi mantapnya keimanan.
Gus Dur juga mengajarkan kita agar senantiasa mendekat pada Tuhan dalam setiap waktu, baik siang maupun malam. Semua bisa dilatih dan dibiasakan melalui praktik dzikir. Karenanya hidupnya akan merasa aman, nyaman dan tentram, sebagai pertanda iman. Dia senantiasa sabar menerima meskipun hidup dalam keadaan pas-pasan, karena semuanya tak dapat dilepaskan dari takdirnya Tuhan.
Dalam kehidupan social, kita harus rukun dengan saudara, teman maupun tetangga, tak boleh bertikai, karena itu ajaran Rasul Muhammad yang mulia, yang harusnya menjadi tauladan kita semua.
Jika kita semua melakukan itu semua, maka Allah lah yang akan mengangkat derajatnya, meskipun secara dhohir kelihatannya rendah, namun sesungguhnya dia memiliki maqom yang mulia. Jika dia meninggal pada akhirnya, maka ruh dan sukmanya tak akan kesasar. Allah akan menyediakan surge tempatnya kembali. Jasadnya akan utuh begitu juga kain kafan yang menyelimutinya.
Catatan :
Syi’iran Gus Dur diatas menjadi bahan refleksi bagi kita semua yang mengaku beriman, agar senantiasa memiliki sikap keberagamaan yang penuh cinta kasih, yang didasari oleh kedalaman ilmu yang tidak hanya Syari’at, tapi juga kedalaman hakikat dan makrifat terhadap Tuhan. Orang mengaku Islam yang merasa benar sendiri, yang seenaknya menyalahkan paham orang lain, mengkafirkan orang lain, mengintimidasi manusia yang lain, membuat keonaran, kerusakan, dan ketakutan terhadap Islam, mengganggu tatanan social kemasyarakatan, menunjukan kedangkalannya dalam memahami keagungan ajaran Islam. Seakan-akan bahwa tiket surga itu bisa diperoleh dengan cara-cara seperti itu, padahal Sehebat apapun ibadah syari’at, pintu surga hanya akan terbuka jika Allah SWT ridlo kepada kita. Baiknya hubungan kita dengan Allah, dengan sesama saudara seiman, sesama saudara sebangsa, dan sesama saudara sebagai manusia, merupakan pertanda kedalaman Ilmunya.

Pesan Universal Kasih Sayang

Tuhan menciptakan segala apa yang ada di dunia ini dengan “Rahman Rahim”. Sifatnya yang maha kasih maha sayang, bagaimana Manusia, tumbuhan, binatang diciptakan, bagaimana dunia dihamparkan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung-gunung ditancapkan. Semuanya ada dan berwujud material dengan pancaran kasih sayang. Tuhan pun memberikan hasil mahakaryanya tersebut pada mahluk bernama manusia, dibekali akal dan hati, pikiran dan perasaan. Dengannya bisa menilai benar dan salah, bisa memilah baik dan buruk. Pada penciptaan awalnya pula manusia dititipi setitik dari emanasi Kasih SayangNYA, sehingga tugas mengurus kehidupan didunia inipun haruslah senantiasa dengan kasih sayang.
Pesan utama ajaran Tuhan di muka bumi ini adalah rahmatan lil ‘alamiin, menjadi rahmat bagi sekalian alam. Tak boleh ada kekerasan, penindasan yang kuat atas yang lemah, tidak semestinya terjadi perampasan hak seenaknya, intimidasi dan ketidakadilan, penumpahan darah, penjajahan kemanusiaan atas nama apapun, karena semuanya melawan kodrat awal penciptaan kita, nilai kasih sayang.
Jika ada negara adidaya bernama Amerika Serikat, dengan kekuatan ekonomi, politik, militer yang boleh menjajah bangsa yang lain, memaksa negara dan bangsa lain untuk senantiasa berada dalam genggaman tangan kekuasaan globalnya, tak boleh ada desingan peluru, membuncahnya rudal, yang menghancurkan gedung-gedung, membunuh nyawa manusia tak berdosa, menimpakan bencana kelaparan dan kerusakan disuatu negara, sekiranya mereka masih memiliki nilai kasih sayang.
Tak boleh ada pembiaran, jika dibagian dunia yang lain, ada mayat-mayat bergelimpangan, yang hanya tinggal kulit dan tulang disertai ragam penyakit mematikan, mereka kelaparan, mereka kekurangan pangan, mereka tak berdaya, sementara masih ada penduduk di bagian bumi yang lain, hidup dalam kemewahan, dalam keberlimpahan materi dan makanan, dalam hedonisme dan imperialisme serta kapitalisme yang terus menyedot darah, keringat  dan sumber daya alam dimanapun berada, hanya demi terus menumpuk persediaan harta dan kekayaannya seolah mau hidup seribu tahun lamanya, Jika sekiranya mereka merasa punya kasih sayang.
Tak layak jika seorang pemimpin, entah itu presiden, gubernur, Bupati/Walikota, Anggota Dewan terhormat dan elit-elit yang diberi amanah mengurus rakyat dan negara, membiarkan masyarakatnya menderita, ditembaki, dirampok uangnya dengan praktik korupsi, Membiarkan rakyatnya hidup menderita, tak mendapat makan yang layak, tempat tinggal yang memadai, tak mampu berobat tatkala sakit, tak sanggup menyekolahkan anaknya, karena segalanya begitu mahal, karena dia tak mampu bekerja dan berusaha.
Semua yang dilakukan, semua yang menjadi kebijakan, Semua aturan dan perundang-undangan yang dibuat, semua pidato dan pernyataannya, seharusnya harus mencerminkan keberpihakan pada mereka yang tak berdaya, mereka yang seharusnya menerima hak sentuhan kepemimpinan. Jika sekiranya mereka memimpin dengan Kasih Sayang.
Jika Anda menjadi suami, kekasih, Adik, Kakak, menjadi Ayah dari orang-orang yang sebenarnya mencintai Anda dengan kasih sayang tulusnya, Maka tak ada laku pembiaran atas tanggungjawab kasih sayang Anda, semua yang anda ucapkan, semua yang anda usahakan, semua yang anda berikan, adalah wujud keaslian kasih sayang, yang menjadikan mereka bertumbuh dalam kedamaian, dalam pelukan cinta kasih dan sayangnya kehidupan.
Kasih Sayang adalah pesan universal yang akan menciptakan kedamaian. Yang akan membawa kehidupan dalam seindah-indahnya keadaan. kebahagiaan sejati ada karena didalamnya penuh dengan kasih sayang. Kehidupan sejati sebagaimana diperintahkan Tuhan, Adalah kehidupan yang dijalankan dan mengabdi demi seluas-luasnya kasih sayang. Make Love Not War, Dengan kasih sayang takkan pernah ada perang, dengan kasih sayang takkan ada ketidakadilan dan kedzaliman.
Irhamuu man filardi Yarhamukum man fissamaa’i..Sayangilah semua apa yang ada dibumi, niscaya kamu akan disayang oleh semua yang ada dilangit. Happy Valentine Day…

Negeri Lelelangan, Tetenderan, Mumusrenbangan…

Bulan-bulan ini sedang musimnya pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). Biasanya diawali dari musrenbangdus, musrenbangdes, musrenbangkec, dan musrenbangkab, hingga musrenbangprov dan musrenbangnas.
saya berkesempatan menghadiri musrenbangkec, musyawarah perencanaan pembangunan tingkat kecamatan (katanya), diahadiri perwakilan dari tiap desa, fasilitator dari tingkat Kabupaten, biasanya tim dari Bappeda plus pemantau LSM yang dipakai oleh Bappeda. Eh tak lupa hadir juga beberapa anggota dewan yang terhormat.
Konsepnya bagus, solah-olah mendengar dan menyusun program perencanaan pembangunan yang datang dari masyarakat, khususnya yang telah digodok di musrenbang tingkat desa. Jadi program prioritas antar desa diadu sehingga menjadi program prioritas di tingkat Kecamatan, untuk kemudian dibawa dalam musrenbang tingkat kabupaten diadu dengan prioritas program dari kecamatan-kecamatan lainnya.
Bayangkan, ada konsep usulan, ada perwakilan masyarakat, ada tim Bappeda, ada LSM yang memantau, Ada anggota DPRD yang hadir. Tapi pada kenyataannya, program yang terealisasi lebih banyak yang ujug-ujug, yang tak ada dalam rumusan prioritas program dalam musren. Kekuatan lobby politik lebih menentukan sebuah program pembangunan, sehingga kalangan Kepala Desa justru lebih enjoy ngobrol di ruangan khusus dengan anggota Dewan yang hadir, dalam rangka meminta jatah anggaran aspirasi masing-masing anggota tersebut atau meminta pagu anggaran yang bisa diperjuangkan oleh anggota dewan tersebut, tentu dengan konsekwensi komitmen fee dan komitmen dukungan politik kedepannya.
Oleh karenanya, berapapun besarnya anggaran kegiatan musyawarah perencanaan pembangunan, hanyalah bentuk “nyuparkeun kawajiban”, sekedar menunjukan dilaluinya alur mekanisme, meskipun dilakukan dengan model “seolah-olah”. Seolah-olah musren, seolah-olah prioritas, seolah-olah mendengar aspirasi masyarakat. tapi dalam praktek realisasinya, hasil musren hanya berharga sebagai kertas bungkus kacang tanah saja.
Sama halnya dalam urusan lelang dan tender. Kebanyakan mekanisme lelang dan tender juga hanya formalitas saja. Karena nyatanya, hasilnya sudah ditentukan semenjak awal oleh kekuatan politik yang berkepentingan, apalagi jika anggaran pembangunan itu datang karena hasil usungan, hasil membeli dari kios anggaran proyek di tingkat lebih tinggi, baik di provinsi maupun pusat. Atau misalnya kawalan politik dari anggota dewan provinsi ataupun pusat dengan terlebih dulu membuat komitmen dengan pengusaha yang akan mengerjakannya.
Jadi mereka menurunkan anggaran sekaligus dengan pengusahanya, karena sebelumnya urusan “lain-lainnya” sudah terlebih dulu diselesaikan saat pembelian anggaran tersebut.
Inilah kenyataan sebuah kata yang disebut “mekanisme’. yang hanya bermakna dengan tambahan akhiran “an”. Tetenderan, lelelangan, Mumusrenbangan….
Hmmmmm…..

Perang Media Televisi, Antara Politik dan Kecerdasan Rakyat

Jika kita melakukan analisis konten terhadap pemberitaan media elektronik (TV), antara 3 groups mainstream media yaitu TV One (viva news), Metro TV dan MNC Group, maka kita akan begitu mudah menemukan angel yang mencerminkan arah kekuatan politik yang sedang mereka tuju. Hari ini kita menyaksikan serangan luar biasa dari ketiga group media itu terhadap eksistensi partai penguasa yaitu Partai Demokrat. Jika disederhanakan kekuatan dibelakang mereka itu ada Partai Golkar dan Partai Nasdem.
Kenapa mereka berkepentingan mengembosi Demokrat, karena sebagai partai pemenang pada pemilu 2009 dengan presentase raihan suara diatas 20 persen, posisi partai demokrat memang objek paling empuk untuk diambil lapak basis suaranya. terlebih Partai Demokrat tidak memiliki basis masa ideologis sebagaimana partai-partai menengah lain semisal PAN dan PKB, ataupun PPP serta PKS. mereka memiliki irisan kekuatan ideologis dengan struktur maupun kultur jama’ah ormas keagamaan sebagai ayah ideologisnya.
Sementara mayoritas suara Demokrat adalah kalangan tercerahkan ataupun kalangan masa mengambang yang mudah merubah arah sikap dan dukungan politiknya. Kasus hukum yang menimpa beberapa elit kader Partai Demokrat menyangkut persoalan korupsi menjadi amunisi yang sangat luar biasa menghantam pertahanan Demokrat. Karena serangannya begitu dahsyat dan bertubi-tubi dalam intensitas waktu yang panjang. Selama 8 Bulan semenjak kasus M. nazarudin bergulir, demokrat sudah kehilangan 7 persen suaranya. bayangkan kalau persoalan ini menggantung hingga menjelang 2014. Maka akan habislah Demokrat.
Betapa dahsyatnya kekuatan Opini media. Setiap hari tanpa henti media televisi yang tadi saya sebutkan mengangkat kasus korupsi yang menjerat elit Demokrat. Mereka juga meluaskan jaringan pemberitaannya baik ke media sosial, maupun cetak yang juga mereka miliki. Kita sudah sangat jelas membaca latar belakang kapital dan pemilik raja media itu. TV One milik keluarga Aburizal bakri yang notabene Ketua Umum partai Golkar. Makanya dengan keterpurukan Demokrat, Golkar pula yang meraih keuntungan kan? sehingga hasil survei menunjukan Posisi partai Golkar berada pada urutan pertama. Jika dilihat dari sisi ini, strategi Golkar berhasil dengan keberadaan TV One nya.
Sementara untuk Metro TV dan MNC Group kita belum melihat indikator keberpengaruhannya pada tingkat elektabilitas partai nasdem. Karena Nasdem sebagai partai baru masih belum teruji melalui Pemilu. Hanya paling tidak pemberitaan-pemberitaannya yang juga keras, terutama Metro TV cukup membantu terjun bebasnya elektabilitas Partai Demokrat.
Kita tentu berharap bahwa apa yang terjadi di kalangan media televisi, terlepas dari kekuatan kapitalisme yang berada dibelakangnya, akan membuat rakyat semakin cerdas. Jika rakyat mampu membaca secara jernih, bagaimana sebenarnya media tersebut, bagaimana juga keberadaan partai-partai yang berada dibelakangnya, maka tentu rakyat juga akan memiliki pemikiran dan pemilihannya sendiri.
Kita sangat percaya, selain demi tujuan kekuatan politik yang ada dibelakangnya, Media juga berjasa membuka mata publik tentang carut marutnya dunia politik dan tata kelola pemerintahan kita saat ini. Sehingga hal ini akan semakin menambah tingkat kedewasaan berpolitik masyarakat Indonesia.
Jadi di negeriku yang bernama Indonesia ini, Siapa yang punya uang, dia bisa membeli atau membuat jaringan Televisi, maka dia akan menguasai opini, dan bisa buat partai, bisa menjajah “pikiran” rakyat dengan serangan bertubi-tubinya di layar kaca itu. Dan pada akhirnya mereka akan menguasai negara ini, Segalanya. Termasuk darat, laut, udara, dan segala apa yang ada didalamnya, demi semakin mengguritanya uang mereka.
Rakyat??? Hanya tetap dalam derita, dan gigit jari.

Benarkah Kejahatan Terjadi karena Adanya Niat dan Kesempatan?

Betapa menentukannya niat. Sebuah ritual ibadah dalam agama saya Islam, menempatkan niat dalam posisi menentukan sah tidaknya ritual tersebut. Niat juga menentukan apakah apa yang kita lakukan memiliki value atau tidak, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam jargon Bang Napi saja, niat selalu di muncul bersamaan dengan kesempatan, terkait sebuah kejahatan. Bahwa kejahatan itu bisa terjadi karena adanya niat dan kesempatan..!
Benar tidaknya ungkapan Bang Napi tadi memang perlu pendalaman lebih lanjut. Hanya saja secara sederhana jika seseorang memiliki niat untuk melakukan kejahatan, apabila sudah tersedia kesempatan, maka kloplah sudah. Tapi boleh jadi pula meskipun tak ada niat, tapi dihadapan ada kesempatan, bisa juga terjadi. Atau jika ada niat tak ada kesempatan, mungkin saja niatnya tak kesampaian.
Dalam teologi agama, sebuah niat baik, kalau dilakukan akan mendapatkan pahala, Tapi jika sebuah niat jahat tidak dilakukan, dia akan mendapatkan pahala, kalau dikerjakan berdosa. Dalam hidup, semua diukur berdasarkan niatnya.  Niat merupakan bisikan dan konsentrasi hati ketika akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Niat sangat dipengaruhi oleh “isi hati dan kepalanya”. Jika bisikan malaikat yang datang, niat dalam hatinya akan baik. Jika bisikan syetan yang menguasai, hati dan fikirannya akan mengarah pada kekotoran dan kejahatan.
Penting kiranya untuk senantiasa memelihara lurusnya niat. Dalam hidup, tanamkan sedari awal akan bahasa hati niat kita menjalani hidup. Apakah niat kita hidup semata memenuhi kebutuhan perut, bawah perut, atau atas perut? betapa rugi dan celakanya hidup seseorang yang hidupnya semata-mata diniatkan untuk mencari uang, uang, dan uang (harta kekayaan), hanya menggunakan paradigma materialisme semata. Padahal apa yang kita masukan dalam perut, besok pagi pasti kita buang lagi tanpa sesal, apa yang kita nikmati dari bawah perut, yaa rasanya hanya gitu-gitu saja, paling banter jadi anak. Tapi memperjuangkan diatas perut (hati) akan lebih bermakna.
Kebaikan hidup yang kita jalankan, apapun itu, jika dibarengi niat yang baik “Terutama karena Allah SWT”, oleh karenanya mengapa para ustadz sering mengungkapkan makna pentingnya kalimat “Bismillah..”, maka semuanya akan bernilai amal kebaikan. Menulis, Mencangkul bagi petani, berdagang di pasar, mengajar, bekerja apapun, selama disertai niat “mencarai ma’isyah demi anak istri karena Allah” maka itu akan jadi ladang amal kita.
Niat harus dilekatkan dengan kesempatan. jangan menggantungkan niat ! Karena waktu tak mengenal kata tunggu, saat hidup, kesehatan, saat muda, saat kaya, saat memiliki kesempatan, pergunakan niat baik itu pada saat itu juga, jangan menunggu nanti saat kita sudah sakit, miskin, tua, sibuk dan mati.
Niat para pemimpin bangsa ini untuk memperbaiki keadaan carut marutnya negeri, harusnya tak boleh berhenti karena adanya kompromi.  Jangan sampai ada kalimat, ” kalau niat mah sebenarnya para pemimpin bangsa kita itu bisa koq beresin kusutnya bangsa ini”. kesimpulannya berarti mereka nggak ada niat buat melakukan sesuatu yang sifatnya memperbaiki keadaan.
Kalaupun mungkin ada niat , tapi ada “kesempatan” yang mengganggu niat awal yang baik itu sehingga malah terjebak pada keadaan yang tidak baik akhirnya. Niat baik memimpin bangsa dan negara untuk menegakkan hukum, mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan kesejahteraan umum, tapi karena kekuasaan memberi kesempatan untuk melakukan keculasan dan kekurangan ” Korupsi”, maka akhirnya niat itu lari tunggang langgang dari nurani mereka.
Maka tak heran duit rakyat menguap Trilyunan entah kemana, penjara semakin sesak, kehidupan serasa tidak barokah. Bencana terus melanda, penderitaan tak henti mendera. Jika tak ada lagi ruang hidup yang memungkinkan menyatunya niat baik dan kesempatan baik demi sebanyak-banyaknya berbuat kebaikan, Maka perut bumi lebih baik daripada permukaan bumi. Dan sudah menjadi satu kepastian, bahwa sang pemisah nikmatnya kehidupan senantiasa mengintai kita..Dan tak ada apapun yang kita bawa selain selembar kain kafan dan amal shaleh kita sebagai bekal.
Mari Benahi Niat.

Demokrat Sepertinya Tidak Akan Heboh Lagi..!!!

Siapa sih yang menyangka Partai Demokrat akan menjadi pemenang pemilu dan memimpin pemerintahan hampir dua periode? Sebagaimana umumnya partai baru, prakiraan dan analisa banyak pengamat pasti meleset dengan kenyataan, jika menyangkut Partai Demokrat.
Bayangkan, pada awal kelahirannya Demokrat langsung bertengger dalam 3 besar partai peserta pemilu, pemilu 2009 lebih gila lagi, mampu memenangkan pemilu dengan prosentase diatas 20 persen. Mengalahkan 2 parta besar dan mapan lainnya yang sudah berumur lebih dari 3 dasawarsa yaitu Partai Golkar dan PDI-P.
Sebagai masyarakat yang sedikit mengerti persoalan politik, saya mengamati di tingkat bawah. Sebenarnya di Tingkat Kabupaten/Kota, tidak ada kader yang dianggap menonjol pada awal-awal berdirinya Partai demokrat. Pun pada periode kedua. berbeda dengan partai-partai lainnya yang kebanyakan berangkat dari kaderisasi yang jelas baik di partai maupun di organisasi kepemudaan dan Ormas.
Makanya coba teliti lebih detail, kapasitas dan jam terbang politisi demokrat yang jadi anggota DPRD di Kabupaten/Kota, rata-rata mereka tergagap-gagap dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai anggota dewan, termasuk apabila berkaitan dengan manuver politik menyangkut Pilkada. Banyak Kabupaten/kota di Indonesia, meskipun anggota legislatif Demokrat jumlahnya signifikan, tapi tak mampu memainkan peran dan mengatur permainan. Mereka kebanyakan larut dalam ritme permainan partai-partai lain.
Salah satu contoh, saya tak bermaksud meledek. Tapi ini kejadian sebenarnya. Ada Seorang anggota DPRD dari Partai Demokrat saat kedatangan masyarakat, dia berbicara dengan kepercayaan diri yang tinggi ” Gaji saya mah habis oleh konsekwen..!” katanya. Mungkin kata yang dia maksud Konstituen. Semua orang tahu bagaimana kualitas personal dia, Dan semua orang tak ada yang menyangka dia akan jadi anggota DPRD. Namun dia bisa menang bukan karena orang mencontreng nama dia, tapi lambang mercy partai demokrat yang ternyata meledak.
Kasus tersebut terjadi hampir di berbagai dapil yang ada, bahkan mungkin merata di banyak Kabupaten/Kota. Sehingga kesimpulannya. Kebesaran dan kemenangan Partai Demokrat dalam jagat politik republik ini disebabkan faktor utama pesona dan kharisma Susilo Bambang Yudhoyono selaku Pendiri dan saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina. Rakyat sungguh terpesona dengan kegagahannya, gaya bicaranya, kesantunannya, kecerdasannya, dan tragedi sinetron seolah-olah terdzalimi oleh presiden Megawati saat dia jadi Menkopolhukam. Saat SBY disebut oleh Taufik Kiemas sebagai Jenderal kayak anak TK, dan surat pengunduran diri SBY di kiwir-kiwir oleh Mbak Mega.
Kini, setelah hampir sepuluh tahun berkuasa, memimpin negara dengan anggaran 1400 Trilyun, memegang kebijakan pemerintahan eksekutif plus menguasai legislatif, demokrat mulai terkena virus kekuasaan, sebagaimana Lord Acton pernah berkata ” Power tends to corrupt, absolute power corrupt absollutely” bahwa kekuasaan itu cenderung pada praktek Korup, dan Kekuasaan yang Absolut akan membawa pada korupsi yang absolute pula.
Hawa kekuasaan yang menjalar di seluruh lini kekuasaan, membawa sebagian kader demokrat untuk terjebak pada kekuasaan yang terjerembab pada tindak pidana korupsi.  Kasus megaskandal M Nazarudin di 4 departemen yang mencapai angka 6,7 T, kasus suap Wisma Atlet yang melibatkan beberapa elit demokrat semisal M. Nazarudin, Angelina Sondakh, Mirwan Amir, Andi Malarangeng, dan berkelitkelindan dengan dugaan Money Politik dalam Kongres Demokrat Di Bandung yang kini menyeret Ketua Umumnya Anas Urbaningrum dalam pusaran kuat yang akan mengancam kedudukannya, serta telah dan sedang terus merontokan citra partai Demokrat hingga tinggal tersisa di angka 13,7 persen, sebagaimana hasil survei yang dilansir oleh Lingkaran Survei Indonesia baru-baru ini.
Jika pusaran kasus korupsi yang melibatkan beberapa kader demokrat terbuka seluas-luasnya, hingga sampai mengakibatkan sang ketua umum menjadi pesakitan misalnya, dan persoalan money politik saat kongres terbukti kenyataannya, maka habislah partai demokrat.
Pada Saat Presiden SBY habis masa jabatannya, kewibawaan dan pesonanya dicoreng oleh ulah sebagian kadernya, maka mau tidak mau, sudah menjadi hukum alam, masyarakat juga memiliki model hukumannya sendiri. Berlaku prinsip reward and punishmen. Saat periode awal kepemimpinan SBY dan demokrat dianggap baik oleh rakyat, rakyat memberi penghargaan dengan memilihnya, jika kondisi seperti saat ini hingga pemilu mendatang, maka punishmen atau hukuman dari rakyat akan berlaku. Rakyat akan meninggalkan SBY dan Partai Demokrat.
Jadi saya kira, Demokrat tidak akan heboh lagi. Cukup sudah.

Mengapa Nabi Muhammad SAW Sukses Mengemban Misi Kerasulannya???

Hari ini tepat dengan peringatan  kelahiran nabi Muhammad SAW. Umum dikenal dengan maulid nabi. Ratusan juta ummat muslim diseluruh dunia memperingatinya, dengan tanpa tiup lilin. Tapi menggelar pengajian. meskipun sebagain ada yang menyebutnya bid’ah (tak ada dari sono nya), namun sebagai sebuah warisan dakwah yang dilakukan oleh para ulama terdahulu, maka peringatan maulid nabi merupakan model lain upaya mencerahkan ummat dengan didiisi ceramah keagamaan, biasanya mendatangkan muballigh dari jauh, dan biasanya pula ummat berlomba-lomba buat olahan makanan khas rakyat. Sehungga biasanya pula jama’ah yang hadir lebih banyak daripada kegiatan pengajian yang biasa dilakukan, entah itu mingguan atau bulanan. Moment lain yang serupa dengan peringatan maulid nabi atau Muludan, dan menjadi agenda Peringatan hari Besar Islam (PHBI) adalah Rajaban (memperingati Isra Mi’raj Nabi), Muharaman (Memperingati tahun baru Islam, dan Nuzulul Qur’an yang biasanya diselenggarakan di Bulan Ramadhan.
Salah satu hikmah diselenggarakannya peringatan Maulid nabi adalah ikhtiar untuk merefresh atau menyegarkan kembali bahkan harusnya meningkatkan semangat keislaman dan kecintaan kita terhadap Baginda Rosul. Dengan mengenang kelahiran beliau, kita diajak untuk membuka kembali lembar per lembar rangkaian sejarah perjalanan kehidupan beliau, baik menyangkut akhlak kepribadian, misi dakwah, dan model kepemimpinan. Sehingga dari situ kita akan menangkap pesan utama dengan sebuah pertanyaan sebagaimana judul tulisan ini ” Mengapa Nabi Muhammad SAW Sukses Mengemban Misinya ?“. Sehingga Islam yang lahir di jazirah Arab nan tandus sana, bisa berkembang hingga ke seluruh penjuru dunia, termasuk kita ummat Islam di Indonesia.
Faktor Personal Yang Luar Biasa
Hal terpenting dari upaya mencari jawab atas pertanyaan tersebut adalah terletak pada diri Rosul Muhammad itu sendiri. Beliau sudah dipilih oleh Tuhan untuk mengemban ajaran Islam dengan ajaran Kitab Suci Al-Qur’an sebagai pedomannya. Beliau merupakan manusia terpilih, manusia tidak sebagaimana manusia lainnya, basyarun laa kal basyar. Semenjak kanak-kanak beliau telah bergelar Al-Amin, orang yang paling terpercaya, karena karakternya yang tak pernah berbohong dan tak pernah menyianyiakan amanat serta kepercayaan orang lain kala itu.
Selain itu, sebagaimana pengakuan Tuhan sendiri bahwa dalam diri Muhammad SAW terdapat akhlak kepribadian yang agung ” Innaka la’ala khuluqin adhiim“, yang senantiasa memberi contoh dan tauladan yang baik “laqad kaana lakum fii rasulillaah uswatun hasanah..”. Dalam berbagai aspek kehidupan, baik di rumah tangga akhlaq terhadap istrinya, terhadap tetangga, terhadap masyarakat, negara dan terhadap alam raya. Rosul mengajarkan tauladan paripurna.
Rosul merupakan orang yang memegang teguh karakter satunya kata dengan perbuatan, orang yang paling pertama melakukan sesuatu sebelum beliau menyampaikannya pada ummat kala itu. Pesan kesederhanaan misalnya, rosul merupakan sosok pemimpin ummat dan pemimpin negara yang menjalankan hidup sederhana dan paling mencintai orang-orang lemah, fakir dan miskin serta anak yatim.
Bandingkan dengan pemimpin ummat dan negara saat ini, mereka berceramah dan pidato pada ummat dan rakyat tentang kesederhanaan tapi mereka berlomba-lomba dalam kemewahan dunia. Ustadz-ustadz yang sering muncul di berita infotainment, atau yang berkeliling dalam tabligh akbar, lihat gaya hidupnya, atau pejabat-pejabat negara, mereka bisa memiliki kendaraan lebih dari 3, rumah bagai istana, sementara rakyatnya masih banyak yang kelaparan, sakit tak mampu berobat serta berbagai fenomena yang memprihatinkan lainnya.
Mereka fasih mendalilkan ayat diatas podium, tapi mereka lalai dalam tindakan nyata sebagaimana Rosul contohkan. Padahal sebagai seorang Rosul, saat berbicara tentang shodaqoh, beliau pula lah orang yang paling rajin bershodaqoh. saat berbicara tentang perlindungan terhadap mustadhafiin atau kaum papa, rosul merupakan orang terdepan yang membela mereka.
Rosul memimpin dengan cinta, segenap tugas dan pengabdiannya disertai dan diarahkan dengan dan untuk mewujudkan cinta kasih, rahman rahim. Beliau menjalankan misi kerasulannya dengan mencerminkan Islam Rahmatan Lil Alamiin. Islam yang menjadi ramat, penyejuk, dan penyelamat bagi seluruh alam. Bukan Islam yang identik dengan kekerasan, pengrusakan, dan penindasan. Islam yang Rasul ajarkan merupakan Islam yang memberikan energi kedamaian, ketertiban dan keselamatan. Pranata yang dibangun semata-mata adalah bagaimana mewujudkan kehidupan ummat manusia yang terlindungi agamanya, Jiwanya, Akalnya, Hartanya, dan keturunannya (Hifdz uddiin, Hifdzun nafs, Hifdzul Aql, Hifdzul maal, hifdzun nasl).
Faktor Team Work Yang Komplit dan Solid
Faktor lain yang menjadi jawab atas pertanyaan diatas adalah bahwa misi kerasulan Nabi Muhammad kala itu dibantu selain langsung oleh Tuhan, juga terdapat sosok pendamping luar biasa yaitu Siti Khadijah al Qubra, dan 4 sahabat utama dengan masing-masing keutamaannya. Mereka berhasil menjalankan perannya masing-masing dengan loyalitas yang tinggi terhadap agama dan Rosul, memberikan kemampuan terbaik yang dimilikinya, mereka lah Sahabat Khulafaur Rasyidin yaitu Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq, Sayyidina Ummar Bin Khothob, Sayyidina Utsman Bin Affan dan Sayyidina Ali bin Abi Tholib RA.
Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq, beliau sosok ulama faqih, kebaikan, keberanian, kokoh pendirian, selalu memiliki ide-ide yang cemerlang dalam keadaan genting, banyak toleransi, penyabar, memiliki azimah (keinginan keras), paling mengerti dengan garis keturunan Arab dan berita-berita mereka, sangat bertawakal kepada Allah dan yakin dengan segala janji-Nya, bersifat wara’ dan jauh dari segala syubhat, zuhud terhadap dunia, selalu mengharapkan apa-apa yang lebih baik di sisi Allah, serta lembut dan ramah. Beliaulah orang pertama yang paling mempercayai apapun yang disampaikan oleh baginda Rosul termasuk saat Rosul dianggap Gila ketika mengabarkan peristiwa Isra Mi’raj yang dijalaninya.
Sayyidina Ummar Bin Khothob, pemimpin dan jendral lapangan, mantan preman  yang berani dan sangat tegas, dijuluki dengan singa Padang Pasir. Sebelum masuk islam dia merupakan pemuda Arab yang paling keras menentang dakwah Rosul, sering melakukan penyiksaan terhadap mereka yang telah mengaku masuk Islam. Pasca beliau memeluk Islam posisi dakwah Rosul menjadi semakin kuat dan meluas, dan masa Kekhalifahan Umar inilah Islam menyebar hingga ke Byzantium, Persia dan Sekitarnya. Kepemimpinannya mencerminkan ketegasan dan keadilannya pada hukum tanpa pandang bulu, namun hatinya lembut jika sudah menyangkut penderitaan orang-orang lemah dan miskin.
Sayyidina Utsman Bin Affan, beliau dikenal sebagai sosok pedagang kaya raya dan ekonom yang handal namun sangat dermawan. Banyak bantuan ekonomi yang diberikannya kepada umat Islam di awal dakwah Islam. Kelebihan harta yang dimilikinya, serta sikap kedermawanan beliau ini telah membantu perjuangan Rasul berkaitan dengan keperluan logistik termasuk membina ekonomi ummat kala itu. Saat rosul berbicara shodaqoh, maka semua harta kekayaannya, beliau serahkan kepada perjuangan Rasul, yang tersisa hanyalah diri utsman bin affan itu sendiri dan rosulnya, itu ungkapan bernas dari sang ekonom kaya ini.
Sayyidina Ali Bin Abi Tholib RA, sosok muda, intelek dan berani dan tangguh. Beliau mendapatkan mentor langsung dari Baginda Rosul karena semenjak kecil beliau tinggal bersama Rosul. Boleh dikatakan keberadaan sayyidina Ali RA kala itu mencerminkan tipikal perjuangan Rosul dari sisi Generasi Mudanya. Beliaulah yang menggelorakan semangat juang di kalangan muda kala itu. Pada usia 25 tahun sudah menjadi panglima perang badar, kesetiaan dan keberaniannnya ditunjukan saat beliau berani menggantikan posisi Rosulullah untuk tidur di tempat Rosululloh Tidur, ketika musuh bermaksud akan membunuh Sang Nabi.
Paparan ini semata-mata ingin menunjukan bahwa, setiap perjuangan apapun, setiap pelaksanaan tanggungjawab apapun baik tanggungjawab keagamaan maupun kepemimpinan dan kepemerintahanan, memerlukan faktor-faktor utama diatas. Bahwa awali dari diri sendiri dengan menjadikan sosok tauladan paripurna baik akhlak, nilai juang hingga keteguhan sikap. Lalu sosok pendamping hidup (istri) yang luar biasa dalam mendorong daya tahan menuju keberhasilan perjuangan, dan tak boleh dilupakan pentingnya membuat team work yang mencerminkan kekuatan konsep, korlap yang tangguh, ahli ekonomi dan sumber dana yang memadai, serta figur muda yang gagah, berani dan cerdas. Kombinasi enam faktor diataslah yang menjadikan misi Rosul sukses hingga Islam sampai ke kita saat ini.
Penutup
Teringat kisah, saat baginda Rosul menjelang wafat, beliau berwasiat pada sayyidina Ali “Aku berwasiat padamu, jagalah Sholat, dan lindungi manusia lemah diantara kalian. Pada hembusan nafas terakhirnya, hanya tiga kata yang keluar ” Ummati..ummati..Ummati..” ummatku, ummatku, ummatku….betapa besar cinta dan sayangnya Baginda Rosul pada kita, maka darimanakahh kita akan mencontoh ketauladanan beliau melalui Peringatan Maulid Tahun ini?