Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan kemendiknas beberapa waktu lalu
menyatakan bahwa saat ini banyak sarjana yang kesana kemari mencari
pkerjaan, sementara banyak yang dulunya hanya lulusan sekolah dasar kini
malah sukses mmenjadi entrepreneur dan pengusaha besar. Maka tak salah
kiranya, apabila kesimpulan yang diambil dari kenyataan tersebut adalah
bahwa perguruan tinggi hari ini hanya melahirkan sarjana-sarjana pencari
kerja, yang kesiapannya hanya untuk sekedar menjadi PNS, karyawan dan
orang gajian.
Memang menjadi fenomena yang sangat menarik, jika kita melihat fakta dan
kenyataan di sekitar kita, bahwa banyak para pengusaha sukses di
berbagai bidang, hanya menamatkan pendidikan SD saja, mereka adalah
orang-orang yang berhasil menaklukan tantangan kehidupan dengan
kegigihan, keuletan dan potensi otak kanannya. mereka kaya raya, harta
berlimpah dan punya banyak puluhan, ratusan bahkan ribuan karyawan yang
justru dari kalangan berpendidikan baik Sarjana, S2 bahkan S3.
Apakah memang target dan tujuan kita mengenyam pendidikan tinggi itu
untuk menjadi PNS atau karyawan semata? Coba anda lihat ketika
penerimaan CPNS diumumkan pemerintah, ratusan ribu pelamar yang
rata-rata berpendidikan tinggi ikut mengirimkan lamaran dan beradu nasib
mengkuti test, bahkan bila perlu mendekati kalangan pejabat negara,
angota DPRD ataupun pejabat eksekutif dengan kesiapan uang puluhan
hingga ratusan juta.
Coba kita saksikan pula jika ada event lowongan kerja semisal jobs fair,
sebagaimana saat ini sedang dilakukan oleh Kompas, pengunjung begitu
membludaknya, mengharap peruntungan ada lowongan yang pas dengan
disiplin ilmunya dan mudah-mudahan dapat diterima oleh penyeleksi di
lokasi.
Saya pernah merasakan suasana mental seperti itu, ketika menamatkan
pendidikan sarja di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.
Kesana-kemari membawa alamat..jreng..jreng..eh salah, koq jadi ke lagu
Ayu Tingting…hehe..Kesana kemari membawa amplop coklat, keluar masuk
sekitar kompleks gedung di segitiga emas Jakarta, jalan Sudirman dan
Kuningan hingga Gatot Subroto. Bahkan ke lingkungan pabrikan seputar
Pulogadung, Sunter dan Tanjungpriok.
Semua dijalani dalam macet jalan-jalan Jakarta, berdesak diantara
penumpang biskota berikut panas cuacanya. Semuanya hanya berakhir sampai
tingkat wawancara. Hingga akhirnya saya menyambung hidup selama 4 tahun
dengan mengajar di sekolah-sekolah dasar sekitar Kelurahan Jatipulo,
Kotabambu Kecamatan Palmerah. Saat itu saya mengajar di 4 Sekolah Dasar
dengan mata pelajaran Bahasa Inggris di kelas 4 sampai kelas 6.
Hingga ketika saya terpaksa harus pulang kampung, saya juga mulai
disibukan dengan proses mengirimkan lamaran, kesana kemaaaari membawa
amplop coklat besar…beberapa kali juga merasakan test dan wawancara.
Memang sangatlah terasa, betapa opini umum masyarakat, bahwa saat kita
mengenyam pendidikan tinggi, harusnya kita menjadi karyawan, baik di
pemerintahan maupun di perusahaan swasta. Betapa sangat terhormatnya
kedudukan seseorang ketika dia mampu bekerja sebagai seorang karyawan.
Tapi ternyata, sekali lagi fakta di lapangan, orang-orang yang sukses
dan berhasil secara ekonomi, terjun berwirausaha, mereka lebih
sejahtera, lebih memiliki ketangguhan dalam menaklukan tantangan
kehidupan. Mereka bebas menjalani segala dengan merdeka. Dan mereka juga
walaupun hanya lulusan SD justru memiliki anak buah para sarjana,
lulusan perguruan tinggi itu digaji oleh orang yang hanya lulusan SD.
Untuk tulah, jika saja orang yang hanya lulusan SD saja mampu
menciptakan pekerjaan, mampu memberi pekerjaan, memberi kehidupan pada
orang lain, apakah para sarjana juga tidak bisa? Apakah memang lulusan
perguruan tinggi itu sudah tersistemized dengan paradigma otak kiri yang
harus rigid dan kaku dengan dunia kerja dengan waktu masuk dan keluar
kantornya jelas, gaji bulanan yang diterima juga pasti segitu-gitunya?
Sementara mereka yang lulusan SD dapat menikmati keberlimpahan dalam
kemerdekaan, dalam manajemen keuangan yang sepenuhnya ada dalam kendali
dia. Dia bisa bebas menikmati uangnya, tanpa terbatasi kisaran angka UMR
dan bonus lainnya, yang sangat mudah dihitung oleh orang lain pada
umumnya.
Oleh karena itu wahai para sarjana, apakah kita mau kalah dengan mereka
yang hanya lulusan SD semata. Apakah masih tertarik untuk terus mencari
kerja dan kesana kemaaaarri membawa alamat..! eh amplop coklat? Ataukah
kita akan taklukan tantangan kehidupan dengan menciptakan pekerjaan dan
membangun kebebasan finansial, dengan membuka dan memaksimalkan potensi
entreupreneurship yang ada di kita. Silahkan memilih, karena kehidupan
hanya kita sendiri yang tahu dan menentukan arahnya.***
Kaki Gn. Galunggung Tasikmalaya, 24042012
Menamatkan pendidikan di Kampus Pembaharu Ciputat, belajar menulis saat terbata mengeja sya'ir ghazal Abu al-Atahiyyah dan menjadikannya karya akhir sebagai mahasiswa. Beberapa tulisan baru laku di Koran Radar Tasikmalaya (Jawa Pos Group) dan Koran Priangan (Pikiran Rakyat Group, Kompasiana.Com. Menulis semata-mata hobi dan niat Ibadah. Semoga bermanfaat....Salam....
Senin, 23 April 2012
Selasa, 28 Februari 2012
“You Are The Looser!”
Aku mengenalnya saat sama-sama mengikuti pendidikan dan
pelatihan yang diselenggarakan oleh KODI DKI Jakarta di daerah Tanah
Abang, satu tahun lamanya. Orangnya cantik, putih, keibuan dan cerdas.
Bicaranya bernas dengan kemasan bahasa yang sederhana namun berisi. “Panggil saja namaku Ina”
begitu dia pertama kali memperkenalkan diri. Dia orang seberang Sumatra
bermarga Lubis. Di Jakarta sebenarnya dia sedang mengikuti kuliah di
LIPIA di daerah Salemba. Sebuah lembaga yang takhassus dalam bidang
kajian Islam dan Bahasa Arab. Sementara aku sendiri sedang menimba ilmu
di salah satu perguruan tinggi di daerah Ciputat Jakarta.
Pertemuan demi pertemuan di kelas kampus Tanah Abang ini, dan
diskusi-diskusi ringan seputar keluarga, kampus, dan masalah agama cukup
membuat kami lebih dekat. Hingga suatu hari Aku memberanikan diri
untuk mengantarkannya pulang ke sebuah perum di daerah Depok. Disana ia
tinggal bersama kakaknya yang sudah bekerja di salah satu bank berplat
merah. Perjalanan dalam biskota antara Tanah Abang dan Depok telah
menyisakan sebuah asa yang ternyata diantara kami sama-sama
merasakannya.
“Jika abang percaya bahwa hati ini digerakkan oleh Tuhan, Mencintai
atau membenci sekalipun, Aku takkan pernah bisa menolak takdir” begitu kalimat yang mengalir dari bibir mungilnya.
” Abang hanya sedang bertanya pada Tuhan, dalam setiap menempelnya
dahi ini di sajadah lusuhku, dimalam nan sepi, dalam tengadahnya tangan,
Apakah kiranya rasaku ini DIA Ridloi?” Jawabku dalam suatu kesempatan berbincang.
“Minggu depan, Umi akan datang ke Jakarta, Jum’at sore kapal akan
merapat di Pelabuhan Tanjungpriok, Ada sodara yang mau menikahkan
anaknya. Jika Abang ada waktu, datanglah ke Umi, sekedar silaturrahmi.
Ina sudah bicara banyak koq di telepon tentang Abang” ungkapnya
dengan nada penuh harap. Sesaat aku sempat terdiam, membayangkan apa
kira-kira kejadian yang akan terjadi jika aku datang berkunjung menemui
Uminya yang jauh-jauh dari seberang sana.
“Insya Allah Sabtu pagi abang akan berangkat dari rumah, menemui Umi”
Jawabku. Di rumah pikiranku melayang-layang, aku berfikir keras
pembicaraan dan sikap apa yang harus aku tunjukan jika Umi bertanya
tentang aku dan kedekatanku dengan anaknya Ina.
Pagi-pagi sekali aku sudah berangkat menuju Depok, selama dalam biskota,
aku mencoba mengumpulkan kata, untuk kurangkai sebagai bahan
pembicaraan dengan Umi nanti, ada rasa deg-degan, cemas dan waswas,
karena baru kali itu aku harus bertemu dengan ibu dari perempuan yang
mengaku mencintaiku, Sebagaimana aku pun mengungkapkan kalimat yang
sama.
Akhirnya, Aku mampu mengatasi beban mentalku saat bertemu dengan Umi,
beliau ternyata sangat ramah, dan nampak sekali kematangannya sebagai
seorang Ibu. Suasana cair dengan penuh keakraban dan kekeluargaan sangat
terasa. Aku bisa tertawa lepas dan tanpa beban sama sekali, karena Umi
juga mewanti-wanti agar aku jangan segan. Terlihat rona bahagia dan
senyum mengembang dari Ina. Dia menyaksikan bahwa aku kelihatannya mampu
menaklukan Uminya. Dan tak ada tanya khusus dari umi seputar aku dengan
Ina anaknya, Beliau hanya berujar “Nitip anak umi ya ananda…”
Hingga umi kembali lagi ke Medan hari Seninnya, Aku ikut mengantarkan
hingga pelabuhan Tanjung Priok. Baru kali itu aku menginjak pelabuhan,
masuk ke dalam kapal mengantarkan Umi dan barang-barang bawaannya. Ada
keharuan juga saat umi berpelukan dengan Ina, dan beliau menatap padaku
sambil berurai air mata, “Jagain Ina yaa Ananda..” kalimat
itulah yang lagi-lagi keluar dari Umi, Aku mengangguk dengan penuh
Ta’dhim, meyakinkan Umi. Pulangnya dari pelabuhan Aku sengaja ajak Ina
main ke tempat tinggal saudaraku, tempat selama ini aku menitipkan hidup
di Jakarta.
“Bang..Ina ingin bicara, Sebenarnya umi bilang ke Ina, bahwa ada
seorang pria datang ke rumah umi, minta Ina untuk jadi istrinya. Dia
seorang dosen di salah satu perguruan tinggi disana, Umi sebenarnya
datang kesini sekalian ingin bertanya pada Adik, bagaimana responnya.
Kedatangan Abang, dan pertemuannya selama dua kali ini telah memberikan
jawaban bagi Umi, sehingga umi pulang membawa jawaban tentang bagaimana
sikap Ina” ungkapnya. Ada gurat kesedihan diwajah bersihnya. ” Tapi Ina bahagia melihat sikap aa pada Umi” katanya.
Aku hanya menarik nafas panjang. Aku sangat memahami perasaan yang
bergejolak dalam hati Ina. Aku mengerti keinginannya, dan aku pun
merasakan kebahagiaan yang tiada tara saat bisa sedemikian dekat dengan
keluarganya.
” Abang akan pulang ke Kampung, akan bicara dengan Ema disana..”
kataku. Aku meyakinkan dia bahwa, Aku adalah sosok lelaki yang memang
siap menjadi Imam dia. Menjadi pelabuhan terakhir cintanya, yang akan
menjalani kebahagiaan hidup bersama, menaklukan Jakarta.
Aku dan Ina menjalani sebuah ikatan yang begitu mencerahkan, saat
sama-sama menyelesaikan diklat di KODI Jakarta, kita menjalani hubungan
jarak jauh, telpon dan surat terus mengalir. Bahkan hingga suatu saat
Ina terpaksa harus pulang, karena Umi sakit.Aku mengantarnya hingga ke
geladak kapal, Aku bahkan menunggu di pinggir dermaga, saat kepal mulai
berlayar, dan lambaian tangannya pergi meninggalkan aku dalam keheningan
sendiri. Ada rasa hampa, rasa kehilangan.
Saat dia di Medan sana, hubungan komunikasi kita masih sangat lancar dan
intens, setiap hari aku selalu menanti tukang pos lewat, karena
biasanya Ina berkirim surat dengan coretan-coretan pena yang begitu
dalam. bahkan catatan perjalanan 2 hari tiga malamnya di kapal, dia
tuliskan dalam surat yang seminggu kemudian aku terima. Sangat menyentuh
dan membuat aku tak dapat berkata apa-apa. Betapa dalamnya rasa cinta
dia.
Dalam berseliwerannya suara, jutaan kata-kata yang ku tulis dalam
kertas, dalam bentangan jarak yang memisahkan, Aku sampai pada suatu
malam. Di Wartel langgananku, suara sendu di seberang sana, sudah hampir
dua jam aku berbicara dengannya.
Ina mengabariku tentang semakin intens nya pria yang tempo hari itu
datang ke rumah. Dia terus bertanya kapan akan menyebrang ke Sumatra,
menjemput asa yang sudah menjadi janji bersama. Sementara dalam
pikiranku juga verkecamuk ucapan Ema, pada suatu kesempatan aku bicara
tentang kedekatanku dengan seorang perempuan Sumatra “Jangan jauh-jauh, nanti susah pulang“. Itulah mantra sakti dari Emakku.
Selama lebih dua jam pembicaraan kami, kalimat terakhir yang ku dengar dari suara telpon itu adalah ” You Are The Looser“.
Itulah suara terakhir dari Ina gadis Sumatra, dan dengan kata-kata yang
sama, juga esoknya aku baca dalam catatan panjang dari email yang
dikirimkannya. Dan aku pun hanya diam, dalam kebisuan sikap.
Aku memang Pengecut..Tapi Aku tak mau menentang Ridlo Ibuku. Karena
Ridlo Tuhan dalam Ridlo Orang Tua, Murka Tuhan juga dalam murka kedua
orang tua. Apalagi Emakku, adalah “khalik” yang telah menciptakanku
menjadi seorang “makhluk” bernama manusia.
Kenaikan BBM, Pemberian BLT, dan Recovery Demokrat
Presiden SBY sudah menyampaikan kabar saat dilangsungkannya Sidang
Kabinet Paripurna kemarin perihal rencana kenaikan harga BBM. Besaran
kenaikannya sekitar 500-1500 rupiah. Kebijakan ini dilakukan karena
harga minyak mentah dunia yang mencapai angka 130 dollar per barrel,
akibat dampak krisis di Suriah, Iran dan Timur Tengah pada umumnya serta
krisis ekonomi yang melanda Eropa dan Amerika. Dan faktor meroketnya
harga minyak dunia ini berakibat sangat memberatkan keuangan negara,
karena dengan sendirinya beban subsidi menjadi sangat besar, dan tentu
akan membuat postur APBN menjadi tidak sehat.
Menaikan harga BBM dipastikan bukanlah kebijakan yang populer secara
politik, dan itu disadari betul oleh pemerintah termasuk oleh Presiden
SBY, karena hal tersebut pasti akan menimbulkan penolakan serta
serangkaian aksi protes. Demonstrasi mahasiswa dan elemen masyarakat
lainnya akan pecah di berbagai daerah. Namun jika hal itu sudah di
putuskan oleh pemerintah, rakyat hanya bisa pasrah. Menerima saja,
sambil memikirkan cara untuk bisa menambah pendapatan, demi menyesuaikan
diri dengan dampak ikutannya. Pengeluaran untuk resiko rumah tangga
pasti bertambah, karena harga-harga sembako tanpa dikomando pasti aka
ikut terkerek. Biaya transportasi pasti bertambah, karena ongkos
angkutan otomatis naik juga.
Jika tak mampu menambah penghasilan, maka bentuk penyesuaian dirinya
paling menurunkan kadar makanan yang kita makan. Apakah dengan
mengurangi porsi makan atau merubah menu. Jika biasanya kita makan
sehari 3 kali, maka jadi dua kali saja. Jika menu selama ini dengan
daging dan telur, maka cukup saja dengan tahu tempe tiap hari, Jika
selama ini pagi-pagi disuguhi susu hangat atau teh manis. Ya sekarang
cukup segelas teh hangat saja tanpa gula. Jika sebelumnya kalau sakit
bisa langsung ke dokter, ya sesudah kenaikan harga BBM cukup beli obat
di warung saja.
Kenaikan BBM dan Pemberian BLT
Sebagaimana biasa, bahwa jika pemerintah berencana menaikan harga BBM,
maka disiapkan pula skema penanggulangan dampak ikutannya, dan SBY juga
sudah menyampaikan bahwa, anggaran yang tadinya digunakan untuk subsidi
harga BBM, akan dialokasikan dalam bentuk pemberian Bantuan Langsung
Tunai (BLT) atau semisalnya. Hal ini untuk mengurangi dampak langsung
bagi masyarakat kecil di tingkat bawah. Maka show up kemiskinan pun akan
kembali dimulai. Rakyat akan kembali berbondong-bondong mengantri di
kantor pos dan kantor Kecamatan. Rakyat akan berpesta dengan angka 300
rb per bulan, akan terjadi lagi saling tegang diantara masyarakat,
akibat adanya yang diberi BLT dan yang tak mendapatkan.
Memang ada kriteria yang telah ditetapkan untuk menentukan siapa yang
layak menerima BLT, namun kenyataan di lapangan terdapat juga hal-hal
yang menimbulkan kerawanan sosial. Termasuk adanya permainan di tingkat
RT, seperti banyak yang memasukan sanak keluarga RT yang sebenarnya
tidak layak, tapi dimasukan oleh RT tersebut. Sementara warga yang
sebenarnya layak menerima, malah tak mendapatkannya.
Selain itu, pemberian BLT juga menimbulkan kelonggaran ikatan “keguyuban
dan gotong royong” warga, karena sering terjadi saat RT atau Kepala
Dusun mengumumkan gerakan gotong royong membersihkan jalan atau selokan,
banyak muncul komentar ” Suruh saja tuh warga yang dapat BLT..!”.
Pemberian BLT memang membantu menghilangkan rasa sakit untuk sesaat,
ibarat insulin. Rasa “sakit” yang diderita rakyat akibat naiknya harga
BBM, mencoba untuk dibiaskan, Padahal hal itu seakan menanamkan
benih-benih kangker ganas dalam budaya sosial ekonomi masyarakat
Indonesia. Masyarakat seakan di didik untuk berjiwa tangan dibawah,
senang diberi sesuatu yang instan dan pragmatis. Lebih senang di beri
ikan, daripada diberi pancing. Tapi mau gimana lagi, tokh pola
penanggulangan dampak kenaikan harga BBM itu dalam benak pemerintah
salah satunya dengan pemberian BLT.
Pemberian BLT dan Upaya Recovery Demokrat?
Lalu, apakah pemberian BLT ini akan memberi dampak secara politis bagi
Partai Demokrat sebagai the ruling party saat ini? Diakui atau tidak,
bahwa kemunculan Demokrat, serta pergerakan dramatisnya pada pemilu 2009
sehingga berhasil menjadi pemenang, adalah tak dapat dilepaskan dari
politik charity model BLT ini. Kombinasi pencitraan sosok SBY yang
begitu gagah dan santun, dan terkesan di dzalimi oleh Megawati. Pada
periode pertama Kepemimpinan SBY yaitu tahun 2004-2009, gerakan
pemberian “IKAN” ini dilakukan secara massif dan effektif. Jualan
pencitraan di media televisi dan surat kabar seputar klaim keberhasilan
pembangunan ekonomi, dan sentuhan BLT dan sejenisnya, berhasil “membeli”
rakyat di tingkat bawah. Sehingga meskipun secara faktual mesin partai
Demokrat tak kelihatan, bahkan mungkin tidak ada, namun ternyata secara
dramatis demokrat berhasil memenangkan pemilu baik legislatif maupun
pilpres.
Kini setelah kondisi partai demokrat sedang meluncur ke level bawah,
karena perilaku beberapa elitnya yang terindikasi tersangku dalam
berbagai kasus korupsi dengan kualifikasi megaskandal. Bahkan beberapa
petingginya sudah berstatus tersangka, yaitu mantan Bendahara Umumnya M.
Nazarudin, dan Waseksen yang mantan puteri Indonesia Anggelina Sondakh
dalam kasus suap pembangunan wisma atlet. sementara status tersangka
mereka dikaitkan pula dengan dugaan keterlibatan peran Ketum Demokrat
Anas Urbaningrum dalam hal penggelontoran dana suap proyek tersebut yang
digunakan untuk pensuksesan AU dalam Kongres Partai Demokrat di
Bandung.
Hasil survei dari berbagai lembaga penelitian sudah menunjukan
prosentase kehilangan suara partai Demokrat sekitar 7 persen. Posisinya
kini di rebut oleh Partai Golkar dan PDIP di urutan pertama dan kedua,
sementara Demokrat melorot ke posisi ketiga. bahkan jika pemberitaan
kasus-kasus korupsi yang melanda Demokrat terus diangkat oleh media
cetak maupun elektronok serta media sosial lainnya, maka tak mustahil
Demokrat akan habis dan tamat.
Oleh karena itulah, bagi saya kenaikan harga BBM itu disamping memang
memiliki alasan-alasan yang rasional secara ekonomi, namun juga akan
berdampak pula secara politik. SBY mungkin sudah kadong tidak populer
dengan kondisi partai yang di binanya, Tapi SBY memiliki keyakinan
bahwa Rakyat Indonesia mudah lupa. meskipun harga BBM naik, harga-harga
kebutuhan dasar lainnya ikut naik, ongkos angkutan naik, segalanya akan
ikut naik, meskipun Demokrat sedang didera persoalan korupsi, namun
dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT) semuanya akan gone with the
wind…rakyat Indonesia akan melupakannya.
Masyarakat Indonesia akan mengingat charity 300 ribu nya, apalagi jika
program BLT ini berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, 1 tahun
kedepan misalnya, maka memori dan perhatian rakyat akan tertuju pada
kalimat ” Saya akan menerima uang 300 ribu sebulan, tanpa harus bekerja, dan itu karena kebaikan SBY“.
Saya meyakini, bahwa saat kenaikan harga BBM diumumkan, saat program
kompensasinya digulirkan, media televisi, dan koran akan dibombardir
dengan iklan dari SBY. Karena hanya SBY yang mampu menaikan Partai
Demokrat dalam singgasana pemenang pemilu. Sesudah berakhir pesona SBY,
maka berakhirlah Demokrat.
Nggak percaya? Mari sama-sama kita buktikan..!
Poligami Tak Disenangi, Zina Dianggap Biasa
Saya menulis ini terus terang terinspirasi oleh tulisannya Mbak Icha Nors di Kompasiana berjudul “Nikah Muda Di Kecam, Zinah Dini Dibiarkan“.
Tulisannya bagus dan inspiratif. Tulisan saya ini pasti tak disenangi
para Ibu. Karena wanita mana yang rela untuk dimadu atau di poligami.
Meskipun satu dua orang diantara sejuta perempuan mungkin ada.
Sebagaimana seorang teman SMA saya yang seorang dosen di salah satu
perguruan tinggi swasta di daerah Ciamis, dia sudah punya anak satu. Dia
pernah berbicara pada saya dalam sebuah kesempatan reuni terbatas. Lalu
diantara kita saling berbagi cerita seputar keluarga. Nah dalam
keasyikan ngobrol itu dia nyerempet ke urusan poligami.
” Man, laki gue kan kerjanya jauh di Kalimantan. pulangnya gak
setiap bulan, kadang 6 bulan atau setahun sekali dia pulang, Tapi
komunikasi via Telpon jalan terus, Gue pernah ngomong gini ama laki gue.
Mas Karena mas jauh, jika mas punya niat untuk berpoligami, asal mas
bicara pada saya, maka akan saya izinkan. Asalkan mas disana jangan
melakukan Zina” begitu katanya. Saya sontak kaget mendengar obrolan dia. Koq Bisa?
“Kalau orang mengimani sepenuhnya pada Al-Qur’an, maka dia harus
menerima seutuhnya apa isi Al-Qur’an, jangan setengah-setengah, atau
menerima sebagian dan menolak sebagiannya lagi. Bagi saya, masalah
Poligami ini jelas ada penjelasannya dalam Al-Qur’an. Jadi bagi saya
tidak ada masalah” bebernya. Nah lho saya semakin mengerutkan kening. ” Lalu bagaimana dengan urusan adilnya?” tanya saya.
” Begini, Ibarat HP, jika seseorang sudah punya satu HP, lalu dia
membeli lagi HP yang baru, maka otomatis dia akan lebih sering
menggunakan HP barunya, wajar dia lebih sering mengusap-usap,
bermain-main dengan HP baru tersebut, karena pasti memiliki tampilan
baru yang lebih indah, menarik, dan fitur yang lebih lengkap daripada HP
yang jadul” ungkapnya sambil ketawa. ” Lalu gimana urusan cintanya, otomatis kan cinta sang suami itu jadi terbagi dua, gak akan seratus persen lagi” Tanyaku lagi.
“Kalau dia suami yang benar, bukan begitu membagi urusan cintanya,
Bahwa saat dia sedang di istri pertama, seratus persen cintanya untuk
dia, saat ke istri keduanya ya seratus persen juga cintanya. Asalkan
sekali lagi dia mampu menafkahi lahir bathinnya saja, dan bisa
membuatnya bahagia. Gue meskipun jauh, dan nafkah bathin jarang toh
fine-fine aja koq. Karena sekalinya pulang, kan gue bisa habis-habisan
ma dia” jelasnya, sambil tertawa lepas. Dan saya pun tak kuasa menahan tawa yang keras. ” Laki lo poligami sekarang, atau nikah lagi disana?” tanyaku penasaran.
“Ya meskipun gue udah ngasih izin, kalo misalnya dia mau poligami
disana, toch dia sampai sekarang gak berani nikah lagi. Dia malah bilang
“Dik mas ngurus kamu satu aja belum sempurna koq, dan gak habis habis”
katanya..hehehe” ungkapnya terkekeh.
Dari obrolan teman tadi, saya terus terang mendapatkan pencerahan
tentang sesuatu yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan. Lalu
saya sering ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman di kantor, dan banyak
sekali informasi tentang fenomena “Suami” yang bermain di belakang
istrinya. Lebih jelasnya mereka sering melakukan “Zina” di luaran.
Bahkan saya sampai pada satu kesimpulan, bahwa mayoritas laki-laki
senang berselingkuh, senang memiliki wanita simpanan lain, dan
menganggap Zina sebagai sesuatu yang biasa. Naudzubillah.
” Wajar lah lalaki mah bangor..asal ulah kanyahoan we! (Wajar
Lelaki nakal, asal jangan ketahuan saja)” begitulah kira-kira mantra
yang sering diungkapkan oleh mereka. Itulah fenomena “kebohongan” yang
seolah dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Saya memiliki pandangan bahwa jika seorang lelaki bermain di belakang
istrinya, maka pastilah dia akan senantiasa memelihara praktik
kebohongan dalam setiap pembicaraan dan tindakannya. Dia akan
berselingkuh dalam segala hal. Dalam berbicara, dia akan sering
berbohong, saat enerima sms atau telpon dari “seseorang” diluar sana,
lalu istrinya nanya misalnya ” Siapa mas?”, dia pasti akan menjawab ”
Teman kantor, pa anu..” dan lain sebagainya. Dalam hal uang, dia juga
pasti akan menyediakan alur kas pengeluaran lain untuk biaya
operasionalnya bermain di luaran. Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan
yang sekan memberi rasa aman dan cap “Biasa” dengan praktik seperti
itulah.
Oleh karena itu, jika melihat fenomena seperti tersebut diatas, maka
saya cenderung sepakat dengan sikap kawan SMA saya tadi dalam menyikapi
persoalan poligami. Jangan terlalu paranoid dengan persoalan yang memang
sudah sangat jelas secara hukum dan aturan mainnya. Apalagi kita
meyakini Al-Qur’an sebagai pedoman hidup seorang mukmin dan muslim.
Pengingkaran terhadap pesan itu, adalah pengingkaran juga terhadap
Al-Qur’an. Persoalannya adalah tergantung bagaimana seorang laki-laki
memandang hukum poligami tersebut, tidaklah semata-mata karena
kepentingan nafsu seksual semata, tapi memiliki dasar pijakan yang
benar, logis, dan memenuhi prasyarat sebagaimana diperkenankan oleh
hukum syari’at.
Karena saya seorang lelaki muslim, saya sangat memahami pandangan kawan
saya tadi, dan sampai saat inipun saya tak pernah terpikir untuk
berpoligami. Tapi saya bukan orang yang berpegang pada judul diatas ” Poligami Tak Disenangi, Zinah Dianggap Biasa”
Anak Sekolah Gaul, “Nge-Gank, Nongkrong, dan Bisingkan Knalpot Motor”
Jika Malam minggu datang, sepanjang jalan Otista dan sekitarnya,
komplek ALun-Alun dan mesjid agung Tasikmalaya selalu dipenuhi berbagai
group tongkrongan berbagai jenis dan merk motor. Samping kiri kanan
jalan berjejer motor, sementara trotoarnya dipenuhi dengan para remaja
yang rata-rata usia sekolah, SMP dan mayoritas SMA, laki-laki perempuan
campur baur. Bahkan ada terselip juga anak-anak SD dengan tongkrongan
sepeda BMX nya. Jalur itu ramainya bukan main, karena disela-selanya
pedagang berbagai jajanan juga ikut mengadu peruntungan. Jika kita
membawa kendaraan roda 4 ke arah itu pasti merayap perlahan, karena
padatnya jalur jalan tersebut.
Saya sempat berfikir, gejala apa ini sebenarnya. Kota kecilku menjadi
tempat pajangan motor begini. Yang paling meresahkan adalah, bahwa jika
malam kian larut, group motor tersebut berkonvoi keliling kota. Mereka
meraung-raungkan suara bising knalpotnya yang sudah di variasi. Beberapa
tawuran antar gank motor maupun penyerangan gank motor terhadap
perkampungan warga kerap terjadi, dan sempat memakan korban jiwa dan
luka-luka. Aparat tinggal aparat, meski disiagakan pasukan dalmas di
dekat pos tugu Adipura, namun rentetan kejadian memilukan dan meresahkan
warga itu terus saja terjadi.
Inilah sepertinya gaya hidup remaja yang juga rata-rata anak sekolahan
zaman sekarang. Mereka, karena berbagai serbuan budaya modernisme,
tersedianya sokongan ekonomi keluarga, sementara perhatian keluarga yang
kurang karena kesibukan ibu bapaknya bekerja, ditambah lagi derasnya
perkembangan teknologi, karenanya mereka memiliki kesempatan untuk dapat
berkomunikasi dengan Handphone, internet, dan perangkat media sosial
lainnya. Mereka mudah berhimpun diri dalam sebuah ikatan kelompok,
saling mengidentifikasi diri, saling curhat dan mencari pelarian bersama
karena suasana broken home nya di keluarga.
Mereka senang bergerombol, mulai belajar merokok, berpakaian dan bergaya
rambut yang aneh-aneh, memakai tindik di telinga, hidung, bibir bahkan
lidah. Lebih jauhnya lagi mereka mulai coba-coba miras oplosan, narkoba,
seks bebas dll, Itulah gaya yang menurut mereka dianggap sebagai sebuah
model dan gaya hidup yang keren. Yang mencerminkan anak muda yang gaul
dan funky.
Gaya hidup nge-gank, nongkrong bergerombol, berkonvoi kendaraan dengan
raungan bising knalpot, seakan sudah menjadi trend umum di semua darah.
Baik Kota-kota besar maupun pinggirannya. Sangatlah jauh berbeda,
keadaan remaja kini dengan sepuluh tahun yang lalu misalnya, kalau dulu
mesjid dan tempat mengaji masih dipenuhi oleh para remaja, usia sekolah
SMP maupun SMA masih mau menuntut ilmu agama di malam hari, melalui
majlis taklim di pesnatren, madrasah atau mesjid di dekat tempat
tinggalnya. Kini perkembangan modernisme yang sedemikian pesat, derasnya
arus pengaruh budaya barat, bejibunnya pusat-pusat perbelanjaan, mall
dan supermarket, karaoke dan pusat keramaian publik lainnya, telah
menyihir mereka untuk lebih banyak di dunia arus budaya pop dibandingkan
melatih dan belajar diri dengan berbagai bekal keilmuan dan attitude
masa depan.
Pesatnya teknologi, telah membuat para remaja dan anak-anak sekolah kita
tercerabut dari dunia genuinitasnya sebagai anak bangsa. Facebook,
twitter, gameonline, tayangan di televisi telah menyihir mereka menjadi
anak muda dan remaja yang teralienasi dari keluhuran budaya orang
tuanya. Sekolah seakan hanya berperan mencerdaskan intelektualnya
semata, sementara moral, mental dan kecerdasan emosional serta
spiritualnya tak tersentuh dengan baik. Kita lebih bangga dengan teori
pengajaran dibanding dengan pendidikan. Mengajar membuat mereka pintar,
tapi mendidik membuat mereka benar.
Selain itu, orang tua juga berperan melahirkan situasa kegagapan budaya
seperti itu bagi anak-anak muda, mereka cenderung melupakan peran
mendidiknya sebagai seorang ibu ataupun ayah bagi anak-anaknya. Mereka
sekan berfikir bahwa tugas utamanya mencari nafkah, menyediakan
kebutuhan ekonomi bagi anak-anaknya. Sementara perannya dalam
berkomunikasi di rumah tidak mampu dilaksanakan secara maksimal. Mereka
susah berperan sebagai pendengar yang baik, dari keluh kesah dan curhat
anak-anaknya, mereka pembicara yang baik yang mengeluarkan banyak
perintah dan larangan bagi anak-anaknya. Tanpa sentuhan ketulusan cinta
dan kasih.
Anak Sekolah sekarang, gak gaul gak funky, gak nongkrong gak asyik, gak
bisingkan knalpot motor nggak keren. gak nyoba narkoba, ndeso, nggak
ngelakuin seks bebas, ketinggalan zaman. Apakah remaja tua kayak
kita-kita ini, dan para orang tuanya akan diam membisu sajja? SEPERTINYA
SEMUA KOMPONEN HARUS MELAKUKAN SESUATU. Pemerintah, aparat, orang tua,
tokoh agama, praktisi pendidikan, Tak bolah diam, sama sekali.!
Berkantor Di Atas Gondola
Di samping kiri jembatan Tomang Raya menuju arah
Harmony terdapat sebuah gedung bertingkat, namanya Gedung Graha Sukanda
Mulya. Letaknya persis berada di jalur putaran kolong Jembatan Tomang,
yang jika kita mengambil arah kiri akan menembus ke daerah Tomang Banjir
Kanal, jika memutar ke arah kanannya kembali ke arah Jl. Tomang raya
menuju perempatan jalur tol Tangerang, Gatot Subroto dan Ke kanannya
arah Taman Anggrek. Sementara jika pas puteran jalan dari Kolong ambil
arah kanan akan menuju ke arah Kota Bambu, Slipi dan Tanah Abang.
Gedung Graha Sukanda Mulya ini adalah Gedung tempat pertama kali saya
merasakan suasana kantor. Persis saat pertama kali gedung itu diresmikan
penggunaannya, dengan beberapa perusahaan yang sudah mulai menyewa dan
beraktifitas di gedung tersebut. Gedungnya berlantai 7 apa 9 ya, terus
terang saya sudah agak lupa. Saya merasakan pengalaman ngantor disana
selama hampir setahun. Sekitar pertengahan Tahun 1996 saya masuk kesana
dan berhenti pertengahan 1997.
Saya bukan bekerja dengan fasilitas meja lux, kursi empuk dan
seperangkat media kerja elektronik seperti komputer, laptop, telpon
atau fax. Alat kerja saya adalah Sapu, kemoceng, pengepel, kain lap,
penyemprot kaca, dan penarik airnya. Plus berbagai bahan kimia dan
pengharum lainnya. Oh ya meja kerja paling pavoritku adalah Gondola.
Sebuah rangka besi berukuran 1 x 1,5 M yang hanya muat untuk berdiri dua
orang pegawai, Gondola itu biasa bergelantungan diantara sisi-sisi
gedung Depan, samping kiri kanan.
Mengapa Gondola ini menjadi “meja kerja” pavoritku. Ya karena dari
ketinggian gedung itulah, saya dapat menyaksikan view Jakarta, bahkan
dari gondola itulah selain dapat melihat para karyawan dalam gedung yang
cantik-cantik, saya juga dapat sekali-kali mencuri pandang ke bawah,
sekitar perkampungan padat penduduk. Ada banyak pemandangan indah namun
juga ada yang memerihkan mata, pemandangan indahnya jika ada titik
pemandian umum, suka ada yang sedikit asoyyy..heheh, sementara perihnya
karena melihat bergelantungannya jemuran segala macem, plus lihat
kesemrawutan tata ruangnya yang awut-awutan.
Meski “Meja Kerja” ku dianggap berbahaya, beresiko jiwa, meski terkadang
merasakan panas yang menyengat, membakar kulit dan membanjirkan
keringat, Tapi moment-moment itu sungguh menjadi pengalaman hidup yang
tak dapat dilupakan. Meski dengan hanya bergaji mingguan, Jika datang
hari Sabtu terasa cerahnya dunia kala itu, apalagi ada sesama pegawai
korpsku, perempuan cantik berbody wah, yang ternyata menyimpan cinta.
Rosalinda namanya. Yang sayang tuk ku tolak pesona dan godaan
cintanya..hmmm.
Setengah tahun saya menjadi staff, setengah tahunnya lagi saya menjadi
supervisor dengan 8 anak buah, 4 laki-laki dan 4 perempuan. Tanpa
menghentikan aksiku bergelantungan di Gondola. Karena yang lain tak
memiliki keberanian. Untungnya ada bayaran tambahan diluar honor
biasanya sebagai petugas cleaning service.
Kini, jika saya melihat berita di televisi, tentang kecelakaan para
petugas kebersihan gedung yang tali gondolanya putus dan jatuh, mereka
meregang nyawa, mereka cacat dan banyak cerita mengerikan lainnya, saya
hanya bisa menerawang ke belasan tahun yang lalu. Saat dimana
keterpaksaan untuk bertahan hidup di kerasnya belantara Jakarta, menyatu
dengan indahnya romantika cinta seorang petugas Gondola dan pembersih
kaca.
Teriring do’a untuk teman-temanku pegawai Graha Sukanda Mulia, Daus,
Opik, Rosalinda, Tita dll, semoga kalian berada dalam sebaik-baiknya
kehidupan. Amien.
H.Usep Romli HM, Berhenti Dari PNS, Hidup Berlimpah Dengan Menulis
Ada beberapa orang yang disinyalir memiliki
penghasilan yang besar tapi tanpa harus repot bekerja, tanpa terkena
jadwal berangkat pagi, pulang sore hari. Dia hanya duduk saja di rumah,
tak kemana-mana. Secara fisik dia tak banyak bekerja, yang berkerja
adalah otaknya, pikiran cerdas, bernas, dan khas yang dipadu dengan jari
jemarinya yang menari gemulai diantara huruf-hurup keyboard. Ya, salah
satunya adalah sang pensiunan wartawan, dan seorang sastrawan Sunda yang
tak pernah berhenti menulis, yaitu Kang H. Usep Romli HM.
Beliau adalah sedikit dari orang yang meskipun sudah berusia, tapi jiwa
dan semangat menulisnya tiada henti. Sebagai orang yang sudah malang
melintang di dunia jurnalistik, dunia tulis menulis, Kang H Usep adalah
Da’i yang komplit. Beliau mampu berdakwah secara lisan, karena dia mampu
menjadi muballigh yang hebat saat di atas mimbar, ceramah-ceramahnya
menyejukan dan menyegarkan, Beliau juga mampu berdakwah secara tulisan.
Banyak sekali percikan pemikiran dan dakwahnya yang di muat dalam
media-media cetak baik nasional, regional maupun lokal Jawa Barat,
termasuk berbagai analisanya dalam berbagai persoalan, baik agama,
ekonomi, sosial, politik maupun budaya. Beliau juga memiliki kepedulian
dalam dakwah Tindakannya, Beliau mendirikan sebuah lembaga atau yayasan
di Garut yang bergerak dalam bidang Pendidikan, Sosial dan Pemberdayaan
Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah Garut, tanah kelahirannya.
Saya secara pribadi tak mengenalnya dengan baik. Saya hanya sering
membaca tulisan-tulisannya di koran Priangan, Pikiran Rakyat, Tribun,
Kompas, Republika dan berbagai media lainnya. Beliau juga banyak menulis
karya-karya sastra, cerpen, puisi, novel dan buku-buku anak-anak.
Sebagian ada yang ditulis dalam bahasa Sunda, dan sebagian lainnya dalam
bahasa Indonesia. Beberapa penghargaan telah beliau dapatkan, terakhir
tahun 2011 memperoleh penghargaan Sastra Rancage untuk pengabdiannya
dalam bidang sastra Sunda.
Dalam Wikipedia bahasa Indonesia, nama H. Usep Romli H.M.
dikenal sebagai sastrawan Sunda, lahir di Limbangan Garut, pada 16
April 1949. Awalnya Dia dikenal sebagai penulis buku anak-anak dalam
bahasa Indonesia dan Sunda. Usep lulus dari Sekolah Pendidikan Guru pada
tahun 1966 dan menjadi guru SD di Kadungora, Garut. Dia juga menjadi
koresponden untuk mingguan Fusi (1972), Giwangkara (1972-76), harian Pelita (1977-1979), harian Sipatahunan
(1979-1980). Ketika hendak dipindahkan menjadi pegawai Dinas Pendidikan
dan Kebudayaan di Bandung, dia memilih untuk melepas seragam Pegawai
Negeri Sipil dan bekerja penuh sebagai wartawan Pikiran Rakyat sampai pensiun.
Seorang kawan pernah bercerita, bahwa Pa H. Usep Romli ini adalah
sebagian dari orang yang berpenghasilan tinggi dengan hanya duduk di
depan komputer. setiap hari tulisan-tulisannya masuk ke berbagai meja
redaksi media cetak nasional, regional maupun lokal. Karyanya memang
sudah memiliki tempat tersendiri di kalangan redaktur koran. Susah untuk
tidak laik cetak, karena memiliki kekhasan tulisan, ketajaman analisa
dan gaya bahasa yang menarik.
Sebagai seorang sastrawan Sunda, seorang mantan wartawan, dan kini
sebagai penulis bebas, Kang H Usep Romli adalah sedikit orang yang
memiliki keahlian, pengalaman dan ketajaman olah rasa, olah pikir dan
olah pena. Dengan semuanya itu, beliau telah menunjukan sebagai sosok
orang yang dapat terus berdakwah dengan lisan maupun tulisan serta
tindakan nyata di masyarakat. Keputusannya untuk berhenti dari Pegawai
Negeri Sipil secara total, dan serius dalam dunia menulis. telah membawa
Kang H Usep Romli ini sebagai sosok yang hidup berlimpah dengan karya
menulis.
Beliau cukup diam di rumah, dalam kebahagiaan masa tua, berkumpul
bersama istri dan anak-anaknya, bermain dengan cucu, dan terus tanpa
henti merangkai kata, mengemas ide dan gagasan serta renungan. Dan yang
pasti, dalam limpahan materi dari Tulisannya, Beliau menikmati hari
tuanya dengan tanpa henti memberi manfaat, berdakwah dengan lisan,
tulisan dan tindakan. Kalayan Hurmat Ka Kang H. Usep Romli HM.
Langganan:
Postingan (Atom)